Saya Sudah Mati

“Saya sudah mati, dan yang sedang saya sesali sekarang adalah…”

Kalo betul-betul dikontemplasikan, ini pertanyaan bagus untuk menggali diri, untuk menemukan kembali jalan yang sudah lama kita tinggalkan atas satu dan lain alasan.

Saya coba bayangkan saya sudah mati. Misal setelah mati kita masih bisa merasakan, berpikir, dan berharap, mungkin saya akan melayang termenung di ruang hampa menyesalkan cara saya menjalani hidup yang (orang sini bilang…) ‘magak‘.

Magak itu: gini nggak, gitu nggak. Setengah-setengah. Padanan katanya dalam bahasa Inggris: mediocre.

Saya magak. Banyak orang magak di dunia ini. In fact, most people are. Alasan memilih bersikap hidup magak bisa macam-macam. Salah satunya yang paling umum adalah: ingin diterima lingkungannya, yang kalo saya bahasakan ulang sebetulnya bukan ingin diterima, tapi lebih spesifik lagi: TAKUT DITAKUTI.

Bagi otak hewan kita, hewan lain yang tidak berperilaku dan/atau tidak tampak sama seperti kita = ancaman. Setidaknya at first encounter, secara naluriah kita berusaha menentukan apakah ‘hewan’ yang aneh itu berbahaya atau tidak.

Reaksi selanjutnya, bisa macam-macam. Dan ‘macam-macam’ ini range-nya cukup lebar. Mulai dari dijadikan panutan di lingkungannya, atau sekedar diterima sebagai bola liar, atau malah diusir, atau dikucilkan, bahkan dibakar massa. Dan ketika kita nggak bisa memprediksi kira-kira kita bakal jadi manusia setengah dewa atau jadi ayam bakar, we play safe. Kita seperti serigala berbulu domba. Kita sembunyikan kelebihan-kelebihan yang nggak lazim diterima lingkungan kita. Begitu juga dengan kekurangan-kekurangan yang nggak lazim, kita sembunyikan. Yang kita tampilkan hanya yang lumrah-lumrah saja. Sing penting slamet.

Tapi bermain aman juga ada harganya. Kita membayarnya dengan jiwa kita. Setidaknya… itu yang saya bayar untuk hidup saya yang magak ini: saya memenjara jiwa saya sendiri karena… yah, itu tadi: takut ditakuti. Konsekuensinya, saya nggak puas dengan hidup saya. Pada level yang lebih dalam, saya kecewa dengan diri saya. Dan pada akhirnya, ketika saya sudah mati nanti, mungkin saya akan sangat menyesali ke-magak-an ini. Terlepas dari apakah setelah mati nanti saya masih bisa merasa atau nggak, nyatanya, sekarang pun saya sudah bisa membayangkan penyesalan itu.

Misal kita nggak magak… Kita bisa jadi inspirasi, jadi contoh. Mungkin contoh baik bagi sebagian, tapi contoh buruk bagi lainnya. Doesn’t matter. Yang penting kita sudah jujur pada diri kita sendiri dan dengan demikian kita juga jujur pada lainnya. Nggak sembunyi-sembunyian. Setiap sisi diri kita terekspresikan. Diterima lingkungan atau nggak, mungkin jadi nggak penting lagi karena kita menerima diri kita sendiri seutuhnya. Dan saya yakin, ini bakal bikin kita merasa lebih enakan. Karena magak itu nggak enak. Jadi korban lingkungan tapi cuma bisa menyalahkan diri sendiri, itu nggak enak. Siapa yang salah? Kita yang memutuskan untuk magak, bukan lainnya. Kita yang memenjarakan diri kita sendiri, bukan lainnya.

So what’s next?

Saya akan tinggalkan dunia orang dewasa. Saya akan jadi orang yang benar-benar saya. No left no right. Kalo selama ini ada yang bilang saya gila, itu belum seberapa. Kalo selama ini ada yang bilang saya pede, itu belum seberapa. Kalo selama ini ada yang bilang saya nggak konsisten, itu belum seberapa. Kalo selama ini ada yang bilang saya goblok, konyol, nggak masuk akal, kekanak-kanakan… Itu juga belum seberapa. Ibarat sajian makanan, mereka baru ngerasain sesendok. Belum sepiring.

Saya nggak tau apa yang akan terjadi nanti. Yang saya tau, saya hanya ingin lebih jujur pada diri sendiri. Saya berharap, saya nggak sendirian dalam perjalanan hidup saya selanjutnya. Semoga ada kamu yang juga berani menampilkan diri sejujur-jujurnya. Karena, terus terang, saya takut. Kalo ada temennya mungkin berkurang takutnya. 😀

One thought on “Saya Sudah Mati

Bagikan pengalamanmu!