Ini saya coba jawab pertanyaan yang sering saya dengar orang menanyakan, kadang juga ditanyakan ke saya kayak saya ini udah joss aja padahal sebenernya ya sama aja kayak lainnya. Mungkin Anda juga pernah menanyakan hal yang sama pada rumput yang bergoyang, “kenapa hidupku gini-gini aja?”

Yang dimaksut penanya adalah: kenapa gue masih miskin aja?

Terus gue musti jawab apa cobak sedang urip gue sendiri masih semrawut kayak jembut gini?

image

Selama ini saya cuma bisa nyengir kalo dilemparin pertanyaan itu. Tapi sekarang saya punya ancer-ancer, jawaban kira-kira kenapa hidup Anda begitu-begitu aja adalaaaahh… mungkin karena:

1. Anda adalah anak kecil bermuka tua

Ketika berpikir tentang memulai usaha sendiri, apa hal yang paling sering terbayang dalam kepala Anda? Gak perlu bangun pagi. Membuka lapangan kerja baru buat para pengangguran. Bisa liburan kapan mau. Banyak duit. Dikerumunin cewek seksi.

Tau nggak, anak kecil juga gitu lho… Hal sejenis itu lah yang terbayang dalam kepala kecil Anda waktu cita-cita Anda masih seputar dokter, insinyur dan presiden. Kalo jadi dokter Anda akan menyembuhkan banyak orang, Anda akan banyak duit, sibuk, pake jubah putih, dll. Kalo jadi presiden… You know lah… Presiden gitu loh… Semua efek samping yang wah nempel di kepala Anda. Anda pikir Anda bisa mencapainya. Anda pikir di mana ada niat, di situ ada jalan.

Let me tell you one thing: di mana ada niat, di situ ada gunung meletus, ada kebakaran hutan, ada lautan api beserta ribuan setan yang seremnya kayak gini…

image

Anda tau ada ini-itu bisa terjadi, tapi Anda tepis karena Anda pikir Anda bisa melalui semua itu. Dan ketika hal nggak enak itu beneran terjadi, Anda nggak siap karena ternyata nggak seenteng yang Anda bayangkan. Anda naif. Takabur. Begok.

Akhirnya Anda gagal. Apa yang Anda lakukan? Anda meratap. Menyalahkan ini dan itu. Sedang gagal itu keputusan. Gagal itu hanya terjadi ketika Anda memutuskan untuk menyerah. Jadi, matematikanya: Anda gagal karena Anda memutuskan Anda gagal.

Oh, Anda menyerah karena nggak ada lagi yang bisa Anda lakukan? Begitulah anak kecil. Menyerah, nangis karena frustasi dan minta perhatian enyak bokap, trus cerita deh tadi nggak menang lomba makan kelereng karena lawannya punya sendok yang lebih cekung dari sendok Anda. Atau… nggak dapat juara karena temen sekelas pada les di Primagalau sedang “aku nggak.”

2. Karena kelebihan-kelebihan Anda nggak berguna

Coba ambil kertas dan polpen, atau kapur dan papan tulis, whatever lah boi… tuliskan hal-hal yang membuat Anda bernilai. Kira-kira mungkin begini:

Gue ganteng
Baik hati
Pekerja keras
Romantis
Kontol gue gede
Gue cerdas
Pantang menyerah

Tulis semua kelebihan Anda. Atau setidaknya, hal-hal yang pernah dapat pujian dari emak Anda. Kalo sudah, coret semua kelebihan yang mendatangkan duit, dan lihatlah… Betapa banyak hal baik dari diri Anda yang sia-sia, cuma dapat pujian dari kiri-kanan tapi nggak pernah mendatangkan duit.

Apakah kebaikan hati akika bisa dijadikan duit?

Sekarang coba pikir: apakah Anda akan memberi uang pada seseorang hanya karena dia baik hati? Offfuckingcoursenot!! Begitu juga orang lain pada Anda. Nggak bakal ada yang ngasi Anda duit cuma karena Anda baik hati, ganteng, cerdas atau punya kontol gede. Uang tidak datang karena Anda punya kelebihan. Uang datang hanya jika kelebihan itu bermanfaat dan bisa dimanfaatkan oleh orang lain.

image

Maka, tengok lagi daftar kelebihan yang gemilang jaya wijaya tadi. Di antara semua kelebihan yang belum kena coret, pasti ada satu-dua atau beberapa yang bisa digunakan untuk meningkatkan taraf hidup Anda. Tentukan mana kelebihan yang akan Anda eksploitasi duluan, dan beraksilah! Usia Anda sudah bukan 8 tahun lagi, tapi jatah waktu Anda sama dengan jatah waktu anak Anda: 24 jam/hari. Revolusi nggak bisa menunggu karena datangnya ajal nggak nunggu kita sukses.

Oke, soal mati mungkin masih kejauhan yah karena harapan hidup orang sekarang makin tinggi (meski hidup yang dimaksut adalah hidup tanpa harapan). Tapi pikir gini aja: usia Anda mungkin 30 atau 40 taunan. Ini adalah masa di mana kekuatan Anda perlahan-lahan turun. Anda mulai kesulitan membaca font ukuran kecil, otak Anda makin sulit dipake mikir, level kolesterol dan atau gula darah mulai naik-turun — kalo nggak mulai sekarang, trus kapan?

3. Tapi Anda nggak mau berubah

Coba ingat-ingat, apa saja yang kemaren Anda lakukan selama Anda melek selain makan, pipis, dan berak. Mungkin cuma ngantor, ngopi, nonton TV atau browsing sambil garuk-garuk selangkangan…

image

Apa yang Anda lakukan kemaren kemungkinan adalah juga hal-hal yang bakal/sudah Anda lakukan hari ini. Mungkin sudah 10 tahun hidup Anda setiap harinya seperti hari kemaren — hanya seputar kantor, kopi dan kancut. Se-boring itulah hidup Anda sehingga Anda tertarik membaca artikel berjudul Kenapa Hidup Anda Gitu-gitu Aja.

Tak ada hal baru, pengalaman baru, tak ada skill baru, apalagi prestasi baru. Bagaimana hidup bisa berubah kalo Anda nggak berubah? Monggo dicatat baik-baik: Hidup Anda gitu-gitu aja karena Anda sendiri ya gitu-gitu aja! Tapi… Oke, saya tau, paham, dan yakin Anda sudah mencoba berubah. Tapi gagal karena kondisi tidak mendukung, atau… atau karena Anda hanya seorang pecundang yang lemah.

2 Thoughts to “Kenapa Hidup Anda Gitu-gitu Aja”

Bagikan pengalamanmu!