Artikel ini saya tulis karena geli bin risih mendengar orang menggunakan kata ‘soulmate’ tanpa memahami makna soulmate yang sebenarnya. Perlu diluruskan sedikit.

Soulmate

Soul itu jiwa, mate itu kawan.
Soulmate = kawan jiwa.

Catat, kawan jiwa. Bukan sekedar kawan main, atau kawan kawin.

Soulmate membawa ketenangan jiwa dan memberi kenyamanan. Soulmate menemani Anda dalam perjalanan Anda mencapai kesempurnaan jiwa, dalam konteks apapun. Dan soulmate tidak selalu berbentuk suami atau istri. Bisa jadi dia mbah Anda, bisa jadi dia adik Anda, dosen Anda, mantan pacar Anda, they could be anyone, really!

Dan jumlah soulmate seseorang bisa lebih dari satu orang. Saya yakin setiap orang punya lebih dari satu soulmate. Ada yang punya soulmate sampe puluhan pun saya nggak heran. Tapi soulmate itu yang seperti apa?

Ciri-cirinya…

Pada seorang soulmate, hati Anda bisa tulus berbisik “apa sih yang nggak buat kamu…” dan Anda rela melakukan apa saja untuknya, tanpa pamrih.

Anda dan dia nyaman bersama satu sama lain. Anda dan dia berkembang bersama secara fisik, mental, dan spiritual.

Bersama soulmate, Anda merasa seakan segala macam kekhawatiran Anda pada minggir nyebur got. Cinta kasihnya membawa kedamaian. Kehadirannya membuat dunia Anda menjadi lebih indah dan kehadiran Anda membuat dunianya menjadi lebih indah.

Bersama soulmate, Anda merasa dilindungi, dibungkus dari segala bentuk kekerasan dunia. Perasaan-perasaan seperti ini diidamkan hampir semua orang, tapi nggak semua orang sempat merasakannya meski sampai mati.

Banyak orang berpikir siapa yang jadi pasangan kita (secara resmi, pake buku nikah) itu pasti soulmate kita.

Nggak selalu begitu.

Pada kenyataannya, banyak sekali pasangan suami-istri yang bukannya saling membangun malah saling menghancurkan. Rumahtangga mereka bagai neraka, atau dingin seperti Antartika. Apa ini pasangan soulmate?

Mungkin. Tapi mungkin jenis lainnya…

Karmic Relationship

Seperti soulmate, hubungan yang sifatnya ‘karma‘ juga bisa terjalin dengan beberapa orang sekaligus. Dan orang-orang tersebut bisa siapa saja. Nggak harus pasangan hidup kita. Seperti soulmate, hubungan karmic juga mendorong kita tumbuh dan berkembang secara mental dan spiritual. Hanya saja, biasanya caranya nggak enak. Interaksinya nggak asik. Atau bahkan, hubungannya sucks. Cari aja orang-orang dalam hidup Anda yang bawaannya cuma nyusahin, atau bikin Anda tiap hari makan ati, atau orang-orang yang sering bikin tekanan darah Anda naik, atau orang-orang yang Anda rasa terlalu baik pada Anda sehingga bikin Anda nggak enak ati. Jadi ogah deket-deket.

Konon, kemungkinan hubungan Anda dengan mereka itu karmic. Anda sudah mengenal mereka di kehidupan yang lampau, tapi hubungannya nggak asik. Di kehidupan yang sekarang, kalian wajib memperbaikinya. (Yes, we’re talking about reincarnation here… )

Tapi karena kalian nggak ingat akan satu sama lain, dan kalian juga lupa kalian lahir ke dunia ini mau ngapain, maka hubungan yang nggak asik itu harus terulang lagi. Mungkin perannya ditukar, mungkin juga nggak. Contoh…

Orang yang sering membuat Anda merasa nggak berarti — seperti misalnya atasan yang nggak pernah puas dengan hasil jerih payah Anda atau suami yang doyan jajan di luar — mungkin adalah anak yang Anda sia-siakan di kehidupan Anda yang lalu. Atau mungkin di kehidupan sebelum ini, dia adalah orang dengan peran yang kira-kira sama, tapi karena Anda belum menemukan hikmah dari pengalaman tersebut, Anda harus mengulanginya lagi sekarang.

Perannya di kehidupan yang lampau bisa siapa saja dan apa yang terjadi bisa apa saja. Dan itu nggak penting. Yang penting hikmahnya, pelajarannya. Yang penting perkembangan Anda pribadi.

Soulmate membentuk Anda seperti seorang pembuat kendi air membentuk kendinya. Dengan usapan dan cipratan air. Sedang karmic relationship membentuk Anda seperti pembuat kendi membakar kendinya dalam panas dan tekanan tinggi. Kita butuh kedua proses ini untuk menjadi diri kita yang hakiki.

So, sekarang Anda tau soulmate itu seperti apa. Apa pasangan Anda benar dari golongan soulmate? Atau golongan yang satunya?

Ada satu jenis hubungan lagi. Hubungan yang satu ini istimewa. Hanya orang-orang ‘istimewa‘ saja yang mengalaminya. Kita bahas di artikel selanjutnya.

Bagikan pengalamanmu!