Cindy mati. Upacara pemakamannya baru saja usai beberapa menit yang lalu. Dan seperti yang ia yakini selama ini, dua orang malaikat datang menemuinya. Yang satu berambut gondrong, yang lain cepak. Yang satu pakai celana hitam, yang lain celana putih. Seakan menyimbolkan dua energi yang saling bertolak belakang. Yin dan yang. Beda. Tapi tetap ada kesamaan yang menyatukan keduanya. Dua-duanya sama-sama telanjang dada, sama-sama gagah dan sama-sama doyan nge-gym. 

“Hai, Cin…” sapa malaikat yang bercelana putih. Dengan senyum lebar, Cindy pun menyambut sapaannya, “Hai… Pakabar?”

“Emejing lah… Tau kan… Malaikat gitu loh! Eh, ngomong-ngomong: ko ga pake sepatu yang ‘itu’ sih?”

“Ga tau nih… Ga dipakein tadi sebelum masuk sini. Aku pengen minta dipakein sepatu tapi… Yeea, you know… Udah mati gitu loh…”

“Ih sayang yah, padahal itu Lubutin limited edition kan yah… Kira-kira bakal dikemanain ya itu sepatunya nanti?”

Malaikat satunya, yang bercelana hitam, meski kelihatan sibuk dengan gadgetnya, ternyata juga menyimak perbincangan antara co-workernya dengan si almarhum. Lalu ia pun menyahut, “Udah disikat tetangganya…”

“WHAAT?!!” Cindy dan malaikat yang satunya merespon bersamaan.

“Dasar miskin!!” Gerutu Cindy saat malaikat yang bercelana putih juga bersuara, “Serius lu, broh?”

Tanpa banyak mulut, malaikat yang bercelana hitam melempar gadgetnya, yang kemudian ditangkap malaikat bercelana putih dengan cekatan. Si celana putih pun mulai scrolling-scrolling layar gadget tersebut, lalu berseloroh, “Uuuhh, dasar manusia nista… Memang begini ini yah, manusia… Untung gue malaikat!”

Cindy tak begitu mendengarkan opini malaikat tersebut. Ia tersedot begitu saja ke dalam lamunan. Merenungi nasib sepatunya yang — menurut kabar harian alam kubur online — kini sudah dibawa lari tetangganya.

Sepatu yang ia beli dengan kartu kredit pertama-dan-terakhirnya. Sepatu tercantik dan termahal yang pernah dia miliki seumur hidupnya. Sepatu yang saking mahalnya sampai bikin Cindy terpaksa makan nasi tabur micin sebagai dinner di hari-hari tanggal tuanya selama sebelas bulan berturut-turut.

Tapi waktu itu Cindy rela. Demi penampilan yang berkelas –penampilan yang menunjang kemudahan dapat promosi di tempat kerjanya. Kalau hari ini sepatu itu disikat orang lain, tentu saja Cindy tak rela. 

Itu sepatu bersejarah. Itu sepatu yang menjadi salah satu senjata perjuangan yang didapatkannya dengan perjuangan juga. Demi sepatu itu Cindy telah mengorbankan kesehatannya, hingga akhirnya ia berada di dalam liang kubur ini.

“Trus ini gimana, broh? Dia ga bawa sepatunya…” Suara malaikat yang duduk di sisinya kali ini menyadarkan Cindy dari lamunan. 

“Ya ga bisa lah…” jawab yang bercelana hitam. Malaikat bercelana putih merespon dengan desahan penuh sesal. 

Meski tampak berat hati, malaikat yang bercelana putih pun pamit, lalu hilang begitu saja menyusul malaikat bercelana hitam yang sudah hilang sedetik sebelumnya.

Sendirian di dalam kubur, Cindy bingung akan nasibnya setelah ini tanpa sepatunya. Ia mati karena sepasang sepatu. Tapi apa yang diperjuangkannya tidak dibawanya mati. Tanpa bukti, mau bilang apa dia nanti dalam laporan pertanggungjawabannya kepada Tuhan yang telah ia pilih untuk disembahnya?

Bagikan pengalamanmu!